Semula hanya berkeinginan untuk menghilangkan jenuh yang melanda. Ada beberapa kawan yang mengajak untuk berwisata alam di gunung Tidar kabupaten Magelang. Gunung ini terletak tak begitu jauh dari ramainya kota Magelang. Yah, lumayan mengobati kangen naik gunung yang sudah lama terpendam dan terhambat karena faktor dana dan ijin dari orang terdekat. Walaupun hanya sebuah bukit, tapi paling tidak berharap bisa menikmati hawa pegunungan yang bersih. Sekaligus bisa memberikan inspirasi baru yang mungkin terpendam karena berada dalam kotak 3 x 3 alias kos-kosan he he he.
Perjalanan dimulai dari kos. Setelah perencanaan yang lama tapi tidak terprogram, maka berangkatlah kami berempat ke gunung Tidar tujuan kami. Dengan 2 orang yang belum tidur semalam, dan seorang yang belum mandi karena hawa kos yang tidak bersahabat, maka pada pukul 6 tepat kami mempersiapkan kendaraan perang berupa Suzuki katana 2005 yang bernuansa penjelajah kecil. Udara masih segar dan dingin kala itu.
Perjalanan yang di tempuh menggunakan jalur Ngaglik, Pakem, Muntilan kemudian menuju Magelang ini dilewatkan dengan hati riang, dan berharap akan mendapat sebuah pengalaman yang menyenangkan.
Dengan berbekal semangat juang tinggi dan penuh harap ini maka situasi didalam mobil diwarnai dengan candaan yang seru dan menghibur. Sambil mendengarkan lantunan musik radio kami melewatkan perjalanan ini tanpa merasakan lelah apapun, tapi mungkin terkecuali bagi sang driver he he he. Mungkin ucapan yang tepat buat sang driver adalah “derita lo boz” ha ha ha. Wah ternyata si driver ngambek sembari menyetir mobil dengan seenak perut dia, yah tak apalah wong ya penumpang nurut supir. Perut dikocok kayak telur dadar yang lagi dibuat. Beruntung kali ini perut masih kosong dan tidak begitu menyakitkan, habis makan ga tau deh nanti, yang jelas bakalan amin-amin (menunduk mengeluarkan isi perut.red).
Setelah sampai di pinggir Muntilan, kami segera mengawasi keadaan sekitar untuk mencari target (wah koq kayak mau ngerampok). Tenang dulu penonton, kami hanya mencari sesuap nasi sebagai pengganjal perut saja. Setelah target diputuskan, maka kami menepi dan berhenti di depan warung soto ayam. warung soto ini berada di barat jalan Yogyakarta-Magelang, atau apabila anda melintas dari arh Yogyakarta maka lihat sebelah kiri anda. Lokasi warung ini sendiri sebelum perempatan jalur lingkar kota Magelang. Warungnya sendiri biasa saja, tetapi lumayan bersih. Hal itu membuat nafsu makan menjadi bertambah, disamping perut yang keroncongan yang meminta untuk diisi. Saya sendiri memesan semangkuk soto ayam dan Segelas Teh hangat. Soal rasa mungkin tergantung selera masing-masing, yang jelas tidak terlalu mengecewakan untuk selera saya yang tergolong biasa saja.
Selepas dari sarapan, kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan utama yaitu mendaki gunung Tidar. Semangat yang mengalir dari darah muda kami muncul dengan luar biasa, termasuk Break the limit alias mengambil jalan pintas demi menghindari traffic light di perempatan masuk kota magelang yang terkenal super lama. Dengan belok ke kiri langsung “U turn” maka masalah traffic light terlewati ha ha ha. Untung kami punya driver yang baru saja mengenal kota magelang, tempat dia bekerja.
Begitu memasuki kota yang ditandai dengan ruas jalan yang dibagi, disitulah terletak salah satu pintu masuk gunung. Jalur masuknya sendiri terletak di terminal angkutan kota, sehingga tidak begitu sulit untuk dicari. Sayang kami tidak sempat mengambil gambar pintu masuk dari area gunung ini. Pintu masuk berbentuk gerbang kecil dari pagar tembok putih. Dari sini terlihat jelas jalan menuju puncak yang tak terkira. So, let’s roll, kita memulai pendakian (wah mendramatisir keadaan nih).
Pendakian dimulai dari pintu masuk area perbukitan. Disini hawa sejuk pegunungan serta udara yang masih bersih sangat terasa ketika memasuki hidung. Kadar oksigen yang semakin menipis menambah pendek nafas. Tak sedikitpun melewatkan kesempatan saya menarik nafas panjang berkali kali seperti merefresh paru-paru. Jalur pendakian diwarnai dengan vegetasi yang terbilang cukup tanggung. Ada beberapa pinus disana, juga tanaman yang besar juga ada. Yang jelas banyak pohon yang diameternya seukuran dengan tubuh orang dewasa dan lebih dari itu. Jalur itu sudah dibuat dengan semen menjadikan perjalanan lebih mudah tetapi mengurangi rasa alamiahnya. Anak tangganya cukup lebar sehingga membuat langkah kaki menjadi lebih ringan. Pada saat masuk hutan, kami menjumpai 2 orang pengemis. Semuanya sudah tua sehingga hanya duduk saja. yang menjadi misteri, saya melihat dua orang tersebut sepertinya orang yang sama. Tetapi kalau dipikir, itu semua sangatlah tidak masuk diakal. Mana mungkin nenek tua lebih cepat naik ketimbang kami, lagipula kami tidak merasa dilewati siapapun. Hmm, hutan memang menyimpan banyak misteri.

Setelah menempuh perjalanan menuju puncak yang melelahkan, sampailah kami di puncak gunung Tidar. Kami disambut oleh sebuah bangunan menyerupai pondok. Puncak gunung ini berupa dataran lapang yang lumayan luas. Paling tidak bisa untuk main sepak bola atau volly. Hampir seluruhnya diisi oleh rumput dan beberapa pohon disekitarnya. puncak ini telah dibuat sedemikian sehingga menjadi taman. Ada beberapa bangku yang bisa digunakan untuk melepas lelah dan menikmati puncaknya. Dari sini terlihat kota-kota yang mengitari gunung ini.
